Spread the love

Makassarnews.id-Jawa Tengah.
Kemampuan teknologi digital dalam memberikan informasi kepada masyarakat meliputi berbagai aspek kehidupan termasuk keagamaan. Penyebaran ilmu agama tidak lagi hanya dikuasai oleh institusi – institusi formal seperti lembaga pendidikan dan para pendakwah / ulama namun siapapun bisa menyebarkan ilmu keagamaan dan opininya dalam beragama.

Segmentasinya pun tidak terbatas usia, gender, tingkat pendidikan dll sehingga ada celah permasalahan yaitu pengujian kebenaran masih dipertanyakan atau ketidak jelasan.

Adanya permasalahan tersebut nampaknya ditangkap oleh IAIN Salatiga dengan menyelenggarakannya Internasional Web Series bertema “Keberagaman di Era Digital : Relasi Agamawan dan Peradaban” (24/10). Secara khusus kegiatan ini dilangsungkan oleh Center For Wasathityyah Islam IAIN Salatiga.

Dalam acara tersebut, Prof Zakiyuddin (Rektor IAIN Salatiga) menilai bahwa sisi negatif dari digitalisasi agama dapat diminimalisir dengan  adanya jalan tengah. “Artinya, kehidupan otoritas agama tradisional tetap terjaga dengan baik dan sekaligus merespon positif apa yang telah disiapkan oleh otoritas keagamaan digital. Ini termasuk memelihara warisan agama yang baik. Kemudian kedepannya lebih kreatif dalam menciptakan sesuatu yang baru yang lebih baik dari pada warisan dan komoditas yang ada saat ini, ” ujar Zakiyuddin.

Zakiyuddin mengungkapkan, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga yang sebentar lagi akan menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) Salatiga siap menghadapi digitalisasi agama. Apalagi saat pandemi Covid-19, digitalisasi pendidikan yang mendukung pembelajaran jarak jauh (PJJ).

Disisi lain, secara garis besar Sekjen MUI Pusat, Bapak Anwar Abbas menilai bahwa perubahan pembelajaran agama telah mengarah pada pola transmigrasi, pencarian SDM yang mumpuni, dan pemuka agama membentuk channel sendiri di media sosial, namun dengan kemampuan yang belum tentu mumpuni sehingga memunculkan memunculkan beberapa masalah diantaranya polarisasi, peradaban sekuleristik, dan peradaban religius Islami.

Guru Besar Antropologi UGM, Prof. Irwan Abdullah menjelaskan bahwa perkembangan internet dan produk digital telah mengubah konsep agama di masyarakat, baik positif maupun negatif.
Diantaranya Agama dapat menjadi alat dakwah untuk kepentingan tertentu, internet / media digital memudahkan dalam memahami agama, sumber ilmu agama, dan lain-lain.

Sementara itu, Prof Mohd Roslan Mohd Nor (University Of Malaya) menjelaskan, semua harus siap menghadapi dunia yang terus berubah, termasuk dalam kehidupan beragama.  Kemudahan mencari informasi ada di ujung jari Anda menggunakan ponsel.  Bahkan mencari informasi agama lewat internet dulu dari pada shehh, guru, atau kiai (*)

Andi Kursa.