Spread the love

MAKASSARNEWS.ID – Gowa
Tersebut ungkapan dari Daba dg Ngesa, merupakan salah seorang warga Dusun binabbasa Desa tanabangka Kecamatan Bajeng Barat Kabupaten Gowa. Jumat kemarin (14/6/2019).

Ia mengatakan bahwa kepala desa tanabangka, M Agus, B Siala, tidak memenuhi janjinya perihal bedah rumah miliknya,
menurutnya, Kepala Desa sendiri selama ink telah melakukan 2 kali photo bersama di dalam rumahnya dan menyakinkan dirinya bahwa rumahnya nanti merupakan target prioritas di desa tanabangka yang mula-mula akan dilakukan pembedahan.

“Saat itu saya dua kali di Photo bersama dengan bapak kepala Desa Tanabangka Muh Agus, B Siala di rumah saya, dan berjanji bahwa saya yang pertama kali akan mendapat bedah rumah, ternyata itu hanya janji-janji manis belaka saja, karena setelah keluar daftar nama penerima bedah rumah tahun ini, nama saya tidak ada, “ungkapnya dengan sedikit kesal.

Hal ini dibenarkan oleh salah seorang tokoh masyarakat di Dusun binabbasa, mengaku sebagai pendata bedah rumah warga, menyatakan bahwa Daba dg Ngesa merupakan warga yang pertama kali didata untuk mendapatkan bantuan bedah rumah karena memang kondisi rumahnya sangat memprihatinkan.

Seorang warga pun yang tidak mau disebut namanya kepada Awak media mengatakan bahwa semua yang mendapatkan bantuan bedah rumah terindikasi merupakan orang-orang pendukung bapak kepala desa tanabangka pada saat Pilkades kemarin.

“Saya melihat ada indikasi bahwa orang-orang yang mendapat jatah beda rumah ini, adalah mereka yang merupakan orang-orang yang mendukung kepala desa sendiri dan ada ketidakadilan, karena ada dua KK masih memiliki hubungan sanak keluarga, contohnya di dusun Binabbasa sebanyak 2 kk yang mendapatkan bedah rumah masih satu rumpung keluarga dengan terkait, mestinya cari yang lain sehingga tidak menimbulkan kecemburuan sosial bagi yang lain”, ungkapnya.

Saat kepala desa tanabangka M. Agus, B Siala dikonfirmasi menjelskan bahwa Daba Dg Ngesa, tidak memenuhi persyaratan, sebab menurutnya, dalam persyaratan yang bisa mendapatkan bedah rumah mesti memiliki istri, yang kedua memiliki bukti kepemilikan sertifikat hak milik tanah yang ketiga kemampuan swadaya.

Namun, saat disampaikan jikalau orang-orang yang mendapatkan bantuan bedah rumah saat ini adalah para pendukungnya saja, M Agus, B Siala mengatakan itu merupakan hal yang biasa, saya siap menerima resiko apapun itu juga, “tegasnya.

Menanggapi hal tersebut, oleh seorang tokoh masyarakat desa Tanabangka lainnya, memberi masukan kepada kepala desa tanbangka, bahwa semestinya seorang kepala desa tidak boleh begitu mudah memberi janji kepada warganya karena hal itu bisa menjadi bumerang bagi dirinya, sehingga kalau ada riak-riak seperti ini di masyarakat itu adalah hal yang wajar saja, jelasnya.

Sekaitan dengan itu, warga lainnya juga menyoroti adanya 2 kk yang mendapat bedah rumah yang masih satu rumpun keluarga, “mestinya tidak boleh karena hal itu bisa menimbulkan kecemburuan sosial, jadi kalau ada sorotan dari warga itu hal yang pantas.”ungkapnya.

Editor : Soni Vayzal