Spread the love

MAKASSARNEWS.ID – Makassar.
Himpunan Mahasiswa Antropologi, (HUMAN) fisip Unhas, melaksanakan festival seni dan budaya 2019, di Museum Kota, jalan balaikota no 11, Makassar. Jumat (26/4/2019).

Pada acara pembukaan festival yang diawali dengan, penampilan kesenian tradisional Angngarru, tari Paddupa, dan disusul dengan sejumlah sambutan, berlangsung secara meriah.

Dalam kegiatan yang diwarnai sejumlah pajangan foto budaya, dan sejumlah senjata tradisional khas dari beberapa suku di Indonesia, juga dihadiri oleh sejumlah tamu undangan, antara lain: Wakil Dekan Bidang Kamanusiaan Alumni dan Kemitraan, Staf Dinas Kebudayaan Kota Makassar, Ketua Departemen Antropologi Fisip Unhas, Ketua Dena Kema Fisip Unhas, Ketua Bem Kema Fisip Unhas, Badan Pertimbangan Organisasi Human Fisip Unhas, Ketua Himpunan Mahasiswa Antropologi Fisip Unhas, Dinas Perpustakaan, DKBD, Asisten III, Mahasiswa UMI, Mahasiswa Unismuh, hadir pula perwakilan AGRA Bulukumba.

Usai pembukaan festival yang berlangsung di pelataran Museum Kota, selanjutnya dilanjutkan dengan acara seminar di lantai dua Museum, mengangkat tema “Ketahanan suku kajang di era globalisasi”, dengan menghadirkan pembicara, yaitu :
Prof. Dr. H. A. Pawennari Hijjang, MA, Prof. Dr. H. Aminuddin Salle, SH, MH, Edy Kurniawan/ Salman Azis, Junaid Judda, dan Topo.

Saat ditemui awak media MakassaNews, Ketua panitia penyelenggara, Ramli menyatakan bahwa kegiatan ini akan diadakan selama tiga hari lamanya, dan dalam pembahasan hari pertama ini, terkait Tema, akan mengulas tentang suku kajang dan isu mengenai sengketa lahan.
“Kita kemarin adakan diskusi umum, karena kita mau adakan seminar, dimana dalam seminar ini kita akan bahas masalah suku Kajang, menurut kami sebagai mahasiswa, isu ini sangat bagus untuk dikaji kembali, walau sudah sebelumnya dibahas oleh rekan mahasiswa lainnya”, jelas Ramli.

Lanjut, “Pernah kita adakan penelitian tentang budaya di Kajang, namun setelah di lapangan, yang kita dapatkan, terkait isu tersebut, dan kita ubah penelitian itu untuk mengkaji terkait isu yang dimaksud, sebab waktu itu warga suku Kajang dengan kalimat penuh harap memotivasi kami untuk prihatin terhadap masalah yang mereka alami selama ini”. Pungkas Mahasiswa fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, jurusan Antropologi ini.

Penulis : Andi Kursa
Editor : Soni Vayzal