Spread the love

Oleh Fajrin Al Ayyubi

Dengan Memiliki Kapabilitas di bidang Sinematografi, sekumpulan Sineas muda asal Kab. Gowa, yang berkecimpung di dunia perfilman tergabung dalam sebuah wadah “Gowa Prima Sinema (GPS)”, bekerja sama dengan Ikatan Seni dan Budaya Indonesia (ISBI), kembali melahirkan sebuah film bernuansa horor namun tidak mengandung unsur Deviasi terhadap citra perfilman.

“Doti The Movie”

Adalah sebuah film horor yang punya keterikatan erat dengan unsur religi (Deux ex machina) juga sebagai penawar, jawaban dari “Ketidakmurnian” kebanyakan film bernuansa seram lainnya yang hanya menonjolkan seksualitas semata namun menipiskan koneksi antara kekerasan dan sisi horor sebagai bahan jualannya ( Kekerasan berkaitan erat dengan kengerian).Berbicara mengenai “Doti”,pembahasan kita tak bisa terlepas dari asal-usul dan motif serta dampak dari orang-orang yang terlibat dalam ilmu hitam khas bugis-makassar ini sendiri, baik itu pelaku maupun korban.

Di dalam budaya masyarakat, kita kenal istilah “Siri na pacce” yg telah mendarah daging jauh sebelum orang-orang yang bermukim di pintu gerbang kepulauan sulawesi ini membentuk budayanya sendiri.
“Siri na pacce” adalah sebuah ungkapan atau perwujudan dari rasa malu seseorang saat harga dirinya merasa dilecehkan hingga berujung pembalasan dendam.
Pelecehan itu sendiri bisa karna masalah cinta, pencemaran nama baik, perebutan harta hingga masalah warisan.
Disaat seperti inilah,seseorang maupun kelompok sudah tidak bisa lagi berpikir jernih hingga membalaskan sakit hatinya dengan memakai cara tak lazim dan terlarang baik itu secara adat maupun agama seperti Doti, pelaku akan mendatangi “Sanro” (dukun) dan menyerahkan identitas serta menyampaikan alasannya ingin mencelakai korban dengan sedikit bantuan media ilmu hitam baik itu boneka, jarum maupun angin, niat jahat pelaku pun akan terwujud setelah sebelumnya menyerahkan pundi-pundi rupiah untuk mempertebal kantong sang dukun.
Imbasnya pun sungguh mengerikan, sang korban akan merasakan yg namanya kerasukan, berteriak-teriak tidak jelas, muntah darah bercampur paku hingga menggeliat-geliat macam cacing kepanasan. Belum lagi efeknya yg juga tak kalah mengerikan karna bisa berakibat stress, kegilaan bahkan berujung kematian pada korbannya. Namun kembali lagi, timbal balik tidak hanya berdampak pada korban tapi juga untuk pelaku. Pelaku akan merasakan siksa dunia maupun akhirat karna “Doti” berkaitan erat dengan kesyirikan yang berarti besar “mengundang murka Allah SWT”.
Pandang pada pembahasan awal, permulaan tahun 90-an hingga 2000-an banyak lahir model film horor yg lebih menonjolkan sisi seksualitas semata (verbal maupun non-verbal) ketimbang suasana seram sebagai tujuan awalnya, terkait sejumlah judul film yang cukup mewakili tipe abstrak namun minim korelasi yang “sedikit banyak” mengaburkan kesan juga nuansa dari genre horor itu sendiri.

Menyadari hal ini, beberapa sutradara kenamaan tanah air berusaha mengembalikan konsep film horor tanah air kembali ke jalurnya, dari tangan dingin merekalah lahir Scary Movie yang berkualitas “cukup berhasil” menyeimbangkan sisi kekerasan dan kengerian serta menepikan konsep “paha & dada” yg selama ini meracuni, persinggungan antara manusia & alam goib” di dunia layar lebar indonesia, seolah larut dlm euforia lahirnya horor yg lebih “Pure” inilah, sekumpulan sineas muda yang tergabung dalam Gowa Prima Sinema ( GPS ) bekerja sama dengan anak-anak dari Ikatan Seni & Budaya Indonesia( ISBI ) membuat sebuah karya Sinematografi berjudul “Doti the movie” yg hadir bukan untuk menyaingi tapi lebih dari sekedar “Membantu” perfilman horor nusantara (pada umumnya ) dan perfilman horor tanah daeng (pada khususnya) agar makin berwarna serta kelihatan lebih “Real” hingga tak lagi keluar dari kodratnya sebagai cerita yg membuat bulu kuduk penonton bergidik lantang.

Oleh sejumlah sutradara, hasil adopsi dari sejumlah cerita dengan judul yang menarik, telah banyak dirilis saat ini, pun merupakan sebuah karya inovasi yang telah berusaha menampilkan sisi horor, kekerasan dan religi dalam porsi yang lebih berimbang. Namun tak bisa dipungkiri setelah menonton tayangan film tersebut, mungkin sebagian penonton akan berpikir bahwa beberapa adegan dalam cerita itu mirip dengan alur cerita salah satu film lainnya. Anggapan itu tak salah namun juga tidak sepenuhnya benar karna jika berbicara mengenai kesamaan dalam sebuah film (visual maupun non-visual), jauh sebelumnya lumrah kita temui fenomena seperti itu, contoh terdekat adalah sejumlah film yang dibintangi nama-nama beken, ini secara adegan mempunyai sedikit kesamaan dengan film buatan Hollywood.

Tapi kembali lagi, menurut pandangan penulis sendiri, kesamaan itu bukanlah “kesengajaan mutlak”, sutradara hanya menjadikan film yang diadaptasi dari sebuah novel dengan judul yang sama sebagai referensi (bahan pembelajaran) untuk kesempurnaan karyanya dan tidak bermaksud untuk menirunya sedikit pun (Plagiater). Begitu juga karya dari komunitas yang semula bernama Sinema Indie Gowa ( SIG) ini, pelaku yang terlibat didalamnya hanya menjadikan film buatan Negeri jiran malaysia itu sebagai gambaran dasar dan tidak bermaksud untuk menjiplak keberadaannya.

Jadi kesimpulannya, walaupun banyak kesamaan, pada dasarnya tak ada korelasi yang erat antara sebuah film dengan “Doti the movie” ini, tak lupa, seolah sadar dengan ciri khas daerahnya sendiri, para sineas yg bermarkas di Kabupaten Gowa ini juga menyisipkan sedikit kearifan lokal baik itu yang bersifat sejarah seperti keberadaan Tujua ri Galesong dan Hantu Sissika, juga yang sifatnya kepariwisataan, semisal daerah kota Malino, Ggalesong, Parangloe juga Barombong, dan sebagainya.

Terakhir, jika membahas perkembangan sinematografi kota makassar, hanya tersisa kritik dan caci maki yang sangat tajam dari penikmat melihat tampilan buruk juga asal-asalan yangg seolah hanya mementingkan sisi komersil daripada kualitas Sinematik oleh para pembuat film itu sendiri. Berangkat dari kesadaran inilah, In-syaa Allah, akting ciamik nan memukau dari anak-anak ISBI dipadukan dengan pengambilan gambar yang detail dan penuh perhitungan dari para kru GPS, akan lahir sebuah film horor berkualitas yang akan mengobati kekecewaan serta menjawab keraguan pecinta film tanah daeng berjudul
“Doti the movie”.