Spread the love

Cerpen:

Keyakinan Seorang Aisyah.

Oleh :
Feran Anggraeni

Aisyah sudah dewasa. Apalagi ia sudah menginjak usia kepala dua. Dia berhak menentukan masa depannya atau mungkin dia sudah memiliki pasangan pak..” bujuk Ibu dari anak-anaknya.

“Mana zaman sekarang ini perempuan kalo belum menikah bisa dibilang anak kita nanti tidak cantik, ya. Bagaimana ini kalo terjadi kepada putri tersayang kita“, jawab Bapak Aisyah.

“Tapi sebentar lagi Aisyah akan memakai toga kebangganya. Dia pasti akan memikirkan yang terbaik untuk hidup kedepannya pak, Apa tidak boleh seorang perempuan menentukan pilihan?

“Jangan… Jangan! Kita harus bertindak cepat. Dia putri tunggal kesayangan kita satu-satunya. Kita harus segera menanyakannya kepada Aisyah atau kita harus langsung saja mencari pasangannya.” Raut wajah seorang bapak yang tak sabar ingin menanyakannya.

Pada akhirnya, istrinya mengikuti saja keinginan besar suami pada putrinya. Istrinya langsung bergegas pergi untuk menelpon anaknya untuk segera pulang dan terbesit didalam hatinya ia harus bertemu anaknya dulu sebelum suaminya untuk memulai menanyakan pertanyaan-pertanyaan itu.

Terlintas suaminya melihat istrinya itu. Ia pun tidak berkomentar. Terdengar terlintas percaapan istri dan anaknya. Ia tetap menunggu di ruang keluarga sambil asyik menonton televisi. Malam masih dengan ketenanganya. Film yang ditontonnya pun hampir selesai. Ia masih duduk santai di sofa lembut itu.

Sementara istrinya sedang menyiapkan beberapa hidangan rumahan yang bisa mengisi luang untuk dimakan suaminya. Sambil membuatkan minuman menunggu kepualangan putri kesayangannya.

Suaminya beranjak dari sofa dan berjalan menuju ruang tamu dan membuka sedikit tirai dan mengintip di sela sudut tirai itu. seperti bapak- bapak lainnya akan menunggu kepulangan putri kesayanganya. Sepertinya belum ada tanda- tanda kepulangan anaknya.

Kemudian ia berjalan ke arah pintu melihat apakah ada jejak langkah seseorang yang akan datang. Namun ia kembai lagi duduk di sofa ketenanganya sambil mengalihkan pemikirannya dengan tayangan film di televisi.

Akhirnya terdengar suara seorang mengetuk pintu kemudian istrinya langsung menuju ruang tamu untuk membukakan pintu untuk mengetahui siapa yang datang. Ternyata tukang galon sedang membawakan pesanan galon isi ulang tadi.

“Permisi, Ibu galonnya sudah siap. Maaf saya terlambat mengantarnya” Ujar sorang bapak yang bisa mengantar galon. ‘Iya pak tidak apa-apa”. Sahut ibu Aisyah. Suaminya melirik ke arah pintu dan ternyata bukan putrinya yang masuk.

Istrinya hanya tersenyum tipis melihat tingkah laku suaminya yang tidak sabar menunggu kepulangan anaknya.

Akhirnya ketukan pintu berbunyi lagi. Langsung bapak Aisyah menuju ke ruang tamu untuk membuka pintu. Dalam keadaan seperti ini anaknya tidak pulang dengan sendiri.

Tepat di sebelah anaknya bersampingan dengan seorang pemuda yang menggunan kemeja lengan panjang warna hitam polos yang rapi dan wajahnya bersih. Kemudian menyalami dengan santun tangan bapaknya Aisyah.
“Saya Dito teman Aisyah.” Ujar Dito dengan nada santun.
“Iya nak Dito mari masuk.” Ujar Bapak Aisyah.

Mereka pun masuk dan mengobrol santai di ruang tamu. Ibu Aisyah membawakan teh hangat dan beberapa hidangan cemilan buatan rumahan.
“ Eh kita kedatangan temannya Aisyah.” Coba kenali dulu syah temanmu jangan diangguri begitu saja Ujar ibu Aisyah dengan rasa penasaran.”
“Ibu…” ( dengan wajah sedikit kesal) Aisyah menampakkanya.
“Saya Dito teman SMA nya Aisyah dulu bu.” Kata Dito dengan nada santun.

“Oh teman SMA Aisyah, silahkan dicicipi hidangannya.” Ujar ibu Aisyah “ Nak Dito apa kesibukan nya sekarang?” Tanya bapak Aisyah. ‘Saya bekerja sebagai dosen di salah satu universitas negeri disini.” Kata Dito.
“Wah, bagus sekali dosen muda ya jadinnya” ujar ibu Aisyah.
“Sama seperti dosen lainnya bu.” ( Dito sambil tersenyum keci).

Tak lama kemudian Dito pamit untuk pulang kerumahnya. Mereka pun menuju keluar untuk mengantarkan Dito. Percakapan kecil untuk pamit dilontarkan. Kemudian Dito langsung masuk ke mobilnya. Tak lama mereka sekeluarga pun masuk kedalam rumah.

“Pa, Aisyah langsung kekamar ya soalnya aisyah lelah kegiatan di kampus tadi”.
Melihat raut wajah anaknya yang menggambarkan kelelahan ia pun terbesit untuk menyembuyikan pertanyaan yang telah ia rancang sejak tadi.
Keesokan harinya, Aisyah seperti biasa menyiapkan sarapan pagi untuk keluarganya. Ia seorang yang pandai memasak. Tepat di meja makan terdapat berbagai hidangan makanan yang lezat. Kemudian datanglah Ibu dan Bapak Aisyah untuk mencicipi masakan putri kesayangan mereka.

Terbesit di dalam pikiran Bapak Aisyah untuk membacakan suasana yang keliahatan tenang. Niatnya untuk mengajukan bebrapa pertanyaan untuk Aisyahtidak akan ditunda lagi.

Putri ku tersayang.” kata Bapak Aisyah.
“Iya pak.” jawab Asiyah.
“Apakah kamu sudah punya pasangan, Nak?” kata Bapaknya.
“Hmm… aku belum bisa menjawabnya , Pak.” Kata Aisyah.
“Bagaimana pria tadi malam apakah ia sudah masuk dalam kriteria mu? Kalau kriteria ibu dan bapak sudah mendekati jempol.”
“Begitu lah, Pak.” (Aisyah hanya tersenyum tipis).
“Bagaimana jika pria itu jika melamarmu apakah kamu ingin menerimanya?”
“Aisyah tersedak, mendengar pertanyaan Bapaknya yang begitu tiba-tiba dan membuatnya terkejut.”

Melihat reaksi Aisyah mereka pun berniat untuk menyelesaikan makan saja. Setelah itu Ibu dan bapaknya segera menuju ruang keluarga untuk bersantai. Sedangkan Aisyah masih sibuk membersihkan piring yang kotor.

Terbesit di hati Aisyah merasa bersalah karena ia tidak tau harus bagaimana. Tapi ia sudah merancang masa depannya. Ia pun ikut berkumpul bersama kedua orangtuannya diruang keluarga.

“Aisyah tau jawabannya pak?”
“Iya, Nak.” (Langsun menatap ke arah Aisyah)
“Sebelumnya, apakah bapak menyembunyikan sesuatu dari Aisyah dengan nada penasaran?” Ujar Aisyah.
“Hmmmm.. iya. Bapak akan beritahu kamu. Tadi malam ketika kamu langsung masuk ke kemar ternyata

Dito balik lagi kesini untuk mengambil telepon genggamnya yang tertinggal. Kemudian ia mengutarakan ia menyukai kamu dan ingin bermaksud untuk menikahi mu. Dan bapak rasa Dito juga anak yang baik. Apakah kamu mau untuk menjadi pendamping hidupnya? Kata Bapak.
“Bapak tidak sabar lagi menimang cucu” ujar Aisyah sambil tertawa kecil.
“Iya nak (sambil tersenyum). Bapak juga ingin menjadi seorang kakek apalagi bapak hanya punya putri kesayangan satu-satunya. Apalagi umur bapak dan ibu sudah tua.” Jawab Bapak.

“Oke. Aisyah akan menepati keinginan bapak disaat aku sudah menyelesaikan S2 ku nanti. Aku ingin melanjutkan pendidikan ku agar seperti dia. Aku juga harus terpelajar dan punya karir bagus. Karena untuk menjadi seorang Ibu harus memiliki cikal yang cerdas. Baru nanti kita jadi pasangan yang pas. Karena jodoh itu cerminan diri kan Pak. “ jawab Aisyah.

Bapak Aisyah tersenyum. Tentu saja bangga kepada putrinya yang memiliki pilihan seperti itu. Namun terbesit sedikit kekecewaan bahwa belum bisa menimang cucu diwaktu dekat. Ketika mendengar pertanyaan itu Ibu dan Bapak Aisyah percaya bahwa mereka memiliki seorang putri yang benar sudah dewasa.