Spread the love

Opini

Akankah Korupsi dan Krisis Kepercayaan dapat dijadikan Rasa Bangga?

Oleh :
Soni Vayzal

Banyak kejahatan yang tak terkuak karena uang, banyak pula kebaikan dijadikan tindak kejahatan karena uang. Apakah negara kita telah menjadi budak dari uang?, Budak dari korupsi yang menjanjikan pundi-pundi uang yang berlimpah ?, dan siapa yang tidak tergiur dengan uang ?.

Terjangkitnya budaya baru yang telah mendarah daging di pemerintahan Indonesia, yaitu pemikiran bahwa uang di atas segala-galanya, sehingga membawa Indonesia melahirkan budaya baru. Janji-janji untuk memberantas korupsi, tidak lantas menjadikan negri ini lepas dari tangan-tangan siluman berwajah malaikat, namun ini diperparah dengan krisis kepercayaan.

Krisis kepercayaan dalam arti kata bahwa, ketika rakyat telah percaya sepenuhnya kepada pemerintahan, perlahan namun pasti, Oknum Pemerintahan kembali mewarnainya dengan catatan merah yang memperburuk citra pemerintahan saat ini.

Kemiskinan dan kebodohan menjadi akar kuat yang menumbuhkan kebudayaan ini.

Jangankan di pemerintahan, pada usaha makro yang sangat sederhana pun, tidak pernah lepas dari budaya yang satu ini. Budaya yang mengotori kepercayaan dan menumbuhkan bibit baru, sebab jika pasrah dan terlindas oleh tindak korupsi orang lain, justru dipandang sebagai sesuatu yang merugikan.

Pemikiran saat ini, kenapa orang lain menikmati, sedang kita tidak ikut menikmati ?, Sehingga kita tidak tidak pernah bisa merdeka dari kemiskinan, kebodohan, utang piutang yang tiada akhirnya, belenggu investasi asing yang justru menjadikan kita sebagai negara yang berdiri di atas tanah negara lain, sebab semua kekayaan negara menjadi milik pribadi, perorangan yang mengambil keuntungan negara secara sepihak. Adakah kita bangga menjadi orang Indonesia ketika keadaan kerap seperti ini?.

Budaya korupsi bukankah budaya yang membanggakan, dan sama sekali tidak perlu dilestarikan. Kita sebagai generasi muda Indonesia yang masih menyisakan cinta tulus untuk tanah air, mari memberantas budaya korupsi sejak dini, dan mari mulai dari diri kita sendiri.

“Jangan pernah bertanya apa yang negara sudah berikan untukmu, tapi tanyakanlah, apa yang sudah engkau berikan untuk negara”. (John F.Kennedy, salah satu presiden Amerika, sebelum tewas, pernah berbicara di depan pendukungnya). Kalimat yang sangat sederhana, dan sangat menyindir setiap hati rakyat Amerika yang sangat mencintai negaranya. Terbukti hal ini menjadi akar kokoh yang menumbuhkan semangat rakyat Amerika untuk lebih mencintai negaranya.

“Jangan pernah bertanya apa yang negara sudah berikan untukmu, tapi tanyakanlah, apa yang sudah engkau berikan untuk negara”. (John F.Kennedy)

Pertanyaan kemudian, apa yang telah kita berikan kepada ibu Pertiwi kita, Negara Indonesia ?. Negara yang mencatat prestasi terbesarnya sebagai negara koruptor pada urutan atas di dunia. Atau negara yang telah mencatat kemerdekaan selama 73 tahun, namun tetap pada posisi krisis finansial dan tentunya krisis kemanusiaan.

Apa yang telah kita berikan, tak jarang justru mencatat keberhasilan rakyat Indonesia dalam mencetak koruptor-koruptor termasyhur pada setiap masa-masa kejayaannya. Mari kita dengan bangga memberikan cinta yang tulus pada tanah air kita, yang telah susah payah direbut dari tangan penjajah.

Terimalah warisan para pejuang ini dengan bangga, bangga bertanah air Indonesia.
Tidaklah mudah menjadi merdeka, dan tidaklah mudah dalam mempertahankannya. Bersyukur apa yang ada, dan sepenuhnya menyadari bahwa, kemerdekaan itu adalah proses tanpa henti, yang bermula dari sebuah perjuangan bangsa. Mulai dari mencintai negeri ini dengan apa adanya tanpa pamrih. Perjuangan ini adalah warisan yang harus kita terima dengan bangga.

Perjuangkan kemerdekaan sesungguhnya, kemerdekaan dari kebodohan, kemiskinan, KKN (Korupsi, Kolusi, Nepotisme), kemerdekaan dari intervensi asing, kemerdekaan dari penjajahan bangsa sendiri, dan kemerdekaan atas bumi Pertiwi, sebagai tanah tumpah darah bangsa kita, bangsa Indonesia. Seberapa besarkah kita mencintai negeri ini?.