Spread the love

MAKASSARNEWS.ID Tarakan – Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar mengungkapkan bahwa paradigma pengelolaan sampah yang ada di masyarakat sudah seharusnya diubah. Pandangan berbeda tentang pembangkit listrik dari sampah, akan menjadikan pengelolaannya menjadi berbeda juga.

“Sampah itu kalau dalam bahasa ekonominya harus kita lihat sebagai bebankah atau aset? Karena (pandangan yang berbeda) nanti pengelolaannya akan berbeda,” Tanya Arcandra usai membagikan konverter kit untuk nelayan di Tarakan, Kalimantan Utara, Rabu (14/11).

Menurut Arcandra, sampah itu bukanlah aset, namun merupakan suatu beban atau tanggungan. “Kalau (melihat) sampah sebagai aset, untuk membuat perusahaan maju logikanya akan menambah asetnya ya, produksi sampah akan menambah aset perusahaan,” ujarnya.

Berbeda, jika sampah dianggap sebagai tanggungan atau beban. “Dengan paradigma ini kita melihat pembangkit listrik tenaga sampah adalah dalam rangka mencari solusi bagaimana membuat sampah dibersihkan,” tutur Arcandra.

“Pengelolaan waste to energy kita, melihat bagaimana sampah itu dibersihkan, bukan (pemikiran untuk) mendapatkan revenue dari sampah karena diubah menjadi energi listrik,” paparnya.

Sebagaimana diketahui, biaya pembangkitan listrik dari biomassa (sampah) masih cukup tinggi dan belum banyak perusahaan yang turut ambil bagian dalam pengusahaan pembangkit listrik tenaga sampah ini.

Jika sampah sudah dianggap sebagai tanggungan, lanjut Arcandra, harapannya Pemerintah Daerah juga dapat berpartisipasi dalam mendorong pembangkit listrik tenaga sampah dalam rangka membuat sampah dibersihkan.

“Harus ada partisipasi dari Pemda dalam bentuk tipping fee, biaya yang harus ditanggung pemerintah daerah, agar keekonomian dari waste to energy itu bisa masuk,” pungkasnya. (*/red)