Spread the love

MAKASSARNEWS.ID – Kementerian Agama yang memiliki satuan kerja terbesar dari tingkat pusat hingga sampai daerah dan jangkauan wilayahnya sampai kecamatan memiliki kekuatan besar dalam menangkal narasi-narasi bersifat hoax yang berkembang di masyarakat.

“Kementerian Agama bisa menjadi sektor terdepan dalam penanganan narasi hoax keagamaan, dengan mengoptimalkan resources (sumber daya) daya yang dimiliki sampai tingkat kecamatan,” kata pegiat media yang juga Dosen UIN Syarif Hidayatullah Asrori S Karni saat memberikan materi pada Workshop Pengawasan Peta Isu Keagamaan 2018 dan Proyeksi 2019 yang mengusung mengusung tema “Sinergi Memperkuat Narasi Keagamaan di Media”.

Asrori S Karni menyampaikan materi dengan judul “Melawan Operasi Hoax Keagamaan : Penguatan Kolaborasi dengan Pers Profesional”.

Asrori menjelaskan bahwa dengan mengoptimalkan para Aparatur Sipil Negara (ASN) pada Ditjen Pendis, Bimas-Bimas Agama, Balitbang dan Diklat Keagamaan, serta jejaring ormas keagamaan, maka itu akan menjadi kekuatan besar dalam menyangkal informasi hoax. Caranya, dengan menyampaikan dan menyebarkan konten isu-isu keagamaan yang baik, hingga memberi kenyamanan pada masyarakat.

“Ini dimungkinkan juga dengan membentuk satu tim crisis center untuk melawan konten hoax keagamaan di media,” kata Asrori S Karni.

Semisal, lanjut Asrori, beberapa waktu lalu dimunculkan kembali potongan-potongan video kehadiran Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin pada acara LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender). Kementerian Agama lalu meluruskannya dengan membuat video klarifikasi pernyataan Menag Lukman terhadap keberadaan LGBT tersebut.

“Peran Humas dalam hal ini menjadi penting, untuk dapat menyebarluaskan informasi sesungguhnya,” tambah Asrori.

Selain itu, kata Asrori S Karni, menjalin relasi dengan insan Pers yang profesional juga menjadi salah satu kunci sukses menyebarkan luaskan konten-konten keagamaan. Sebab, Pers membutuhkan informasi untuk disebarluaskan, dengan jalan memberikan akses yang mudah untuk mendapatkan informasi tersebut.

“Relasi berkelanjutan dengan insan pers harus terbangun dengan baik,” kata Asrori. (*/Red)