Spread the love

MAKASSARNEWS ID – Lahirnya semangat untuk cita-cita berdirinya Sumpah Pemuda merupakan satu tonggak utama dalam sejarah pergerakan kemerdekaan Indonesia

Ikrar Sumpah Pemuda melalui kongres yang diselenggarakan pada 27-28 Oktober 1928 lalu di Batavia (sekarang Jakarta), menegaskan cita-cita akan adanya “tanah air Indonesia”, “bangsa Indonesia”, dan “bahasa Indonesia”.

“Hari sumpah pemuda 28 Oktober 1928 lalu mengajak kita mengenang semangat para pemuda dalam memperjuangkan bangsa Indonesia, bersatu berjuang untuk tumpah darah Indonesia. Dengan semangat dan menjunjung tinggi persatuan Indonesia diatas segalanya” Pesan Kurniati Amir, SKM (27/10/2018).

Saat menyikapi peran wanita Indonesia di era kini, Kurniati berharap hak untuk merdeka secara hakiki yang selalu diimpikan dan digaungkan. Mimpi abadi yang dinyatakan dalam semangat perjuangan secara terus menerus untuk hak kesetaraan gender, politik dan memperoleh pendidikan yang layak diharapkan mampu tercapai.

“Hingga kini, perjuangan wanita di Indonesia masih belum selesai. Konsep pendidikan dengan unsur kesetaraan gender wajib digalakkan dengan memberikan porsi yang layak bagi pemahaman sejarah perjuangan kaum wanita Indonesia. Jadi dari kongres lahirnya sumpah pemuda telah diikhtiarkan suatu sumpah yang keluar tidak hanya dari mulut putra-putra Indonesia, namun juga dari putri-putri Indonesia”, tambahnya.

Menurutnya, pemuda adalah ujung tombak pembangunan bangsa dan generasi penerus yang berjuang untuk menjaga serta mengisi kemerdekaan bangsa. Peningkatan kualitas sumber daya pemuda sangatlah penting dalam pencapaian cita-cita bangsa.

“Partai politik telah memberi ruang kepada kaum muda di Indonesia untuk masuk dalam peningkatan partai politik. Partai politik bukan sebuah komunitas, tapi pelopor demokrasi yang dewasa” tutur wanita karir ini.

Sumpah merupakan janji yang tidak bisa diingkari, kekuatan pemuda dan pemudi terletak pada sumpahnya. Perwujudan sumpah itu harus dilakukan dan dikerjakan. “Sumpah pemuda merupakan sumpah yang begitu luar biasa, dan hanya negara ini yang memiliki sumpah pemuda”, lanjut Kurniati.

Alumni UMI ini mengingatkan tingkat kriminal pemuda di Kota Makassar yang harus segera diakomodir. “Bukan hanya memberi efek jera, tapi bagaimana memberi kesempatan dan bimbingan agar bisa menjadi pemuda yang berdaya guna”, menutup wawancaranya. (Nurlia/Yuli)