Spread the love

MAKASSARNEWS.ID – PT. BMS yang merupakan badan usaha bergerak di bidang usaha Perdagangan dan Industri kelapa sawit yang berlokasi di desa Mantadulu, Kecamatan Angkona, Kabupaten Luwu Timur Sulawesi Selatan, yang beroperasi sejak 10 Januari 2008 seakan tertutup ketika wartawan mencoba mengkonfirmasi pengaduan warga.

Pantauan wartawan dilapangan, saat dilokasi aliran yang di duga mengalir dari saluran pabrik terlihat berwarna kehitaman, dan menurut warga sekitar adalah air cucian kelapa sawit.

“Saya tidak tau persis apa nama bahan kimia yang dipakai mencuci buah sawit. Setahu saya itu air dicampur garam, kapur dan racun untuk buah. Air itu mengalir ke sungai Mantadulu yang digunakan warga,”ungkap Udding, warga sekitar.

Selain itu, asap yang keluar dari gerbong pengolahan buah sawit yang mengeluarkan asap hitam diyakini warga sekitar adalah belerang. “Kalau mobil disimpan disekitar pabrik (pemukiman) akan banyak bercak-bercak hitam diatas mobil,”sambung Adi.

Manager PT. Bumi Maju Sawit di Angkona, Akmal saat dikonfirmasi dan minta klarifikasi via selular tidak pernah sekalipun memberikan jawaban terkait adanya pengaduan, keluhan warga dan dampak lingkungan mengenai limbah pabrik kelapa sawit.

Pihak Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Provinsi Sulsel saat dikonfirmasi mengaku sudah melayangkan surat kepada pihak kementerian pusat untuk ditindaklanjuti. “Kami sudah mengirim berkasnya ke pusaf, tinggal menunggu arahan pimpinan”, ungkap Sudarwin beberapa waktu lalu.

Untuk diketahui, sebelumnya warga sempat mendatangi kantor BMS di Angkona untuk mengklaim adanya warga yang diduga sakit akibat limbah kelapa sawit. Namun atas kesepakatan menurut sumber dari seorang aktifis dilokasi akan ditindaklanjuti. (Albar)